Blog yang berisi sebagian aktifitas kami Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ranting Desa Kebonsari Kec.Sumbersuko - Kab.Lumajang, Jawa Timur
Senin, 02 April 2012
Senin, 07 November 2011
Haji Wada'
Senin, 24 Oktober 2011
أَقْبَلَ رَجُلٌ، غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مَحْلُوقٌ، فَقَالَ، اتَّقِ اللَّهَ يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ رسنول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : منْ يُطِعْ اللَّهَ إِذَا عَصَيْتُ؟، أَيَأْمَنُنِي اللَّهُ، عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَلَا تَأْمَنُونِي؟، فَسَأَلَهُ رَجُلٌ قَتْلَهُ، أَحْسِبُهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ، فَمَنَعَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا، أَوْ فِي عَقِبِ هَذَا، قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ، مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ، لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ.
(صحيح البخاري)
Berkata Abu sa’id Al Khudriy ra saat Nabi saw sedang membagi bagi harta pada beberapa orang, maka datanglah seorang lelaki, matanya membelalak, kedua pelipisnya tebal cembung kedepan, dahinya besar, janggutnya sangat tebal, rambutnya gundul, sarungnya pendek, berkata: Bertakwalah pada Allah wahai Muhammad…!, Sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang taat pada Allah kalau aku bermaksiat??, apakah Allah mempercayaiku untuk mengamankan penduduk bumi dan kalian tidak mempercayaiku??” dan berkata Khalid bin Walid ra: Wahai Rasulullah, kutebas lehernya..!, Rasul SAW melarangnya, lalu beliau SAW melirik orang itu yang sudah membelakangi Nabi saw, dan Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak kehatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad” (Shahih Bukhari)
عَنْ جَرِيرٍ:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ : فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ، اسْتَنْصِتْ النَّاسَ، فَقَالَ: لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي، كُفَّارً،ا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ، رِقَابَ بَعْضٍ.
(صحيح البخاري)
Dari Jarir ra: “Sungguh Nabi SAW bersabda padanya, pada Haji Wada’ (Haji perpisahan/haji Nabi saw yang terakhir). Simaklah dengan baik wahai orang-orang, lalu beliau bersabda: “Jangan kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, saling bunuh dan memerangi satu sama lain” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menerangi permukaan bumi dan langit dengan cahaya-Nya, dan Maha menerangi jiwa hamba-hamba Nya dimana ketika jiwa seseorang telah diterangi oleh cahaya Allah, maka akan berpijarlah seluruh keluhuran disekitarnya, pada keluarganya, pada tetangganya, pada segala sesuatu yang ia ucapkan, ia dengarkan dan yang ia lewati. Cahaya keberkahan Ilahi berpijar pada segala sesuatu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam hadits qudsi :
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
”Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan terus menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan yang sunnah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan pandangannya yang dia memandang dengannya, dan tangannya yang dia menyentuh dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Jikalau dia meminta kepada-Ku niscaya pasti akan Kuberi, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya pasti akan Kulindungi.”
Maka ketika seorang hamba melewati tuntunan Ilahi baik amalan yang wajib atau yang sunnah semampunya sampai Allah mencintainya, karena jika Allah mencintainya maka cahaya Allah subhanahu wata’ala berpijar dari penglihatannya, pendengarannya, dan sanubarinya, cahaya Allah berpijar dari doa-doa dan munajatnya, ketika jiwanya bergetar maka bergetar seluruh alam semesta dengan getaran jiwanya .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Di tahun yang lalu kita mengetahui bagaimana banyak gunung-gunung di hampir seluruh permukaan pulau Jawa yang akan meletus, sehingga dinaikkan statusnya menjadi status awas, status siaga 2 atau siaga 1, hampir semua gunung-gunung merapi itu mendadak ingin meletus, namun setelah masuk bulan Rabi’ul Awal dan mulailah seluruh pulau Jawa bergemuruh dengan bacaan dzikir dan maulid nabi sehingga mulai reda dan tidak satu gunung pun yang meletus, dikarenakan kewibawaan Allah yang Allah munculkan dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau telah wafat 14 abad yang silam, namun pijaran cahaya Ilahi tetap berpijar pada para pewarisnya, tetap berpijar pada jiwa para pecintanya, pada jiwa para pembelanya, dan tidak ada orang-orang yang dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala selain para pengikut sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah subhanahu wata’ala telah menyampaikan kepada sang nabi secara tegas dan lugas, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menasihati ummatnya setelah beliau wafat untuk tidak saling hantam satu sama lain, tidak saling menyakiti satu sama lain, tidak saling membunuh antar sesama. Beberapa waktu yang lalu di wilayah ini belum pernah terjadi tawuran, namun sejak tahun 1998 mulai terjadi tawuran maka hal ini merupakan peme rosotan sosial yang sangat memalukan, dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi. Saya menghimbau kepada para pemuda Pancasila, dari Forum Betawi Rembuk, dari FORKABI dan seluruh organisasi-organisasi Islam untuk sama-sama bersatu dalam satu kesatuan “Laa ilaaha illallaah Muhammadun Rasulullah”. Ketahuilah bahwa perkelahian hanya akan menyebabkan kesusahan dan akan memunculkan banyak korban, akan timbul balas dendam, dan hal ini merupakan taktik lama yaitu adu domba dibuat oleh musuh-musuh Islam, namun tetap saja muslimin terkecoh atau terpancing olehnya. Maka janganlah kita tersu terkecoh olehnya, kita sesame muslimin bersatu dalam kalimat “Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah”, ikatan pertama yang tidak bisa terputus di dunia dan di akhirat, dan ikatan yang kedua adalah ikatan saudara sebangsa meskipun mungkin berbeda agama. Satu contoh misalnya seseorang pergi ke luar negeri, negara yang tidak menggunakan bahasa Indonesia, kemudian orang tersebut kehilangan sesuatu atau mungkin tersesat di jalan, maka ia akan kebingungan karena orang disana tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia dan ia tidak bisa berbahasa bahasa di negara tersebut, tiba-tiba di saat seperti itu ia bertemu dengan orang Indonesia maka bagaimana rasa gembiranya orang tersebut, maka tanpa memandang apakah orang itu seagama dengannya apa tidak, maka ia akan sangat gembira karena merasa telah bertemu dengan saudaranya, itulah saudara sebangsa yang terkadang di dalam negeri tidak merasakan persaudaraan tersebut. Dan ikatan persaudaraan yang lain adalah bahwa seluruh manusia di barat dan timur berasal dari Adam dan Hawa. Ketiga ikatan besar ini, yang dua akan terputus di dunia dan satu ikatan akan abadi di akhirat yaitu ikatan iman dan islam . Namun yang sangat menyayangkan dan menyedihkan saat ini justru ikatan iman yang banyak terputus dan berantakan .
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kepada kita peringatan bagaimana seharusnya kita menjaga ikatan tali silaturrahmi dan balasan yang dahsyat jika memutuskan hubungan tali silaturrahmi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Al Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad bahwa tidak ada balasan yang lebih cepat datang kepada seseorang yang berbuat dosa, melebihi balasan untuk orang yang memutuskan tali silaturrahmi. Orang yang memutuskan tali silaturrahmi akan cepat mendapatkan balasannya baik di dunia atau di akhirat, dan terlebih lagi jika yang terputus adalah hubungan kita dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau mungkin dengan mencaci orang yang bershalawat kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah membagikan emas kepada beberapa orang Najd, maka gemuruhlah orang Quraisy dan Anshar karena emas tersebut hanya diberikan kepada mereka, maka seseorang datang dan berkata kepada kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Muhammad, bertaqwalah engkau kepada Allah”, kemudian mendengar hal tersebut berkatalah sayyidina Khalid bin Walid : “Wahai Rasulullah izinkan aku untuk membunuh orang ini”, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya, ketika orang tersebut pergi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Akan muncul dari keturunan orang tersebut suatu kelompok yang membaca Al qur’an namun tidak melewati tenggorokannya, mereka keluar dari Islam sebagaimana melesetnya anak panah dari sasarannya, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan hidup para penyembah berhala, dan jika aku sempat mendapati mereka maka akan kubunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum ‘Ad”. Dan zaman sekarang banyak yang membaca Al qur’an dengan suara yang indah dan bagus namun tidak sampai ke tenggorokan, maksudnya adalah hati mereka masih penuh dengan kedengkian terhadap orang lain, mereka adalah orang-orang yang memerangi orang-orang muslim dan membiarkan orang-orang yang menyembah berhala. Banyak di zaman sekarang orang-orang yang membid’ahkan shalawat, mengatakan orang yang ziarah kubur telah melakukan kesyirikan, padahal mereka adalah saudara sesama muslim yang mengakui “Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasuulullah”, namun mereka tidak memerangi orang- orang yang menyembah berhala. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jika aku mendapati mereka maka akan kubunuh mereka sebagaimana pembunuhan terhadap kaum ‘Ad”. Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintah untuk memerangi kelompok tersebut, dari hadits tersebut dapat difahami bahwa hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berhak memerangi mereka, adapaun tugas kita tidak memerangi akan tetapi membenahi saja, jangan sampai ajaran tersebut semakin meluas dan tersebar, maka waspadalah terhadap keluarga, anak-anak, saudara, teman dan para tetangga agar tidak terjebak ke dalam ajaran-ajaran kelompok tersebut yang mana ajaran itu akan mengakibatkan tercemarnya nama baik Islam.
Dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari dikatakan oleh sayyidina Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para sahabat : “Maukah kuberitahukan kepada dosa-dosa yang paling besar?”, maka para sahabat berakata : “tentu wahai Rasulullah”,kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
الإِشْرَاكُ بالله وَعُقُوْقُ اْلوَالِدَيْنِ وَقَوْلُ الزُّوْرِ ( رواه البخاري)
“ Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan perkataan dusta”. (Shahih Al Bukhari)
Ketiga perbuatan tersebut merupakan dosa yang paling besar, dan ketika Rasulullah mengucapkan kalimat قول الزور ( ucapan/ persaksian yang dusta), beliau mengulang-ulang ucapan itu, yang mana ucapan tersebut bisa berupa fitnah, adu domba, dan lainnya sehingga dengan ucapan itu membuat orang yang baik menjadi hina atau sebaliknya. Dan hal itu merupakan dosa yang paling besar diantara perbuatan dosa yang lainnya. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menyampaikan kepada kita akan keutamaan dan pahala dari berbuat baik kepada kedua orang tua. Salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat dan jika aku mengirimkan pahala untuknya apakah pahala itu akan sampai kepadanya?”,maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “iya betul”, oleh sebab itu berbaktilah kepada kedua orang tua karena berbakti kepada keduanya adalah hal yang lebih mulia daripada jihad, sebagaimana ketika salah seorang pemuda berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :“Wahai Rasulullah, akun ingin berhijrah”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”, pemuda itu berkata : “iya, mereka masih hidup”,maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Pulanglah dan berbaktilah kepada kedua orang tuamu karena berbakti kepada mereka lebih utama daripada jihad”. Maka jika ada orang yang belum berbakti kepada kedua orang tuanya maka tidak sebaiknya tidak membicarakan jihad fisabilillah namun berjihadlah terlebih dahulu terhadap nafsunya dan berbaktilah kepada kedua orang tunya. Dan salah satu keberkahan besar bahwa orang yang berkhidmah kepada ibunya akan selalu dilimpahi kemakmuran oleh Allah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat seperti sayyidina Anas bin Malik RA, Abu Hurairah RA, dan yang lainnya yang telah dilimpahi keberkahan dan kemakmuran oleh Allah subhanahu wata’ala karena berbakti kepada ibunya. Oleh karena itu jika kalian masih mempunyai ayah ibu maka berbaktilah kepada mereka karena hal itu adalah jihad yang termulia, dan jika mereka memiliki akhlaq yang tidak baik maka nasihatilah dengan lemah lembut namun jika tidak berubah maka hal itu adalah hubungan antara mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, dan sebagai seorang anak harus selalu berbuat baik dan berbakti kepada mereka. Dan jika ibunda kalian telah wafat maka kirimilah ia dengan amalan-amalan baik seperti shadaqah dan lainnya.
Selanjutnya kita berdoa dan bermunajat kepada Allah subhanahu wata’ala semoga Allah subhanahu wata’ala melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada kita, mengampuni segala dosa dan kesalahan kita yang telah lalu dan menyiapkan pengampunan atas dosa dan kesalahan yang akan datang, semoga Allah mengabulkan seluruh hajat kita, dan mengangkat seluruh musibah kita, dan mempermudah segala urusan kita. Wahai Rabbi, kami memohon dengan nama-Mu Yang Maha Agung, kami tenggelamkan segala musibah dalam keagungan nama-Mu, kami bentengi diri kami dari seluruh musibah dengan kewibawaan nama-Mu, kami bentengi seluruh masalah dan segala kesedihan kami dengan kewibawaan nama-Mu Ya Allah…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله... لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
Rabu, 02 November 2011
Keutamaan Puasa Arafah

Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 bulan Dzulhijah pada kalender Islam Qamariyah/Hijriyah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang tidak menjalankan ibadah haji. Kesunnahan puasa Arafah tidak didasarkan adanya wukuf di Arafah oleh jamaah haji, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia tidak sama dengan di Saudi Arabia yang hanya berlainan waktu 4-5 jam. Ini tentu berbeda dengan kelompok umat Islam yang menghendaki adanya ‘rukyat global’, atau kelompok yang ingin mendirikan khilafah islamiyah, dimana penanggalan Islam disamaratakan seluruh dunia, dan Saudi Arabia menjadi acuan utamanya.
Keinginan menyamaratakan penanggalan Islam itu sangat bagus dalam rangka menyatukan hari raya umat Islam, namun menurut ahli falak, keinginan ini tidak sesuai dengan kehendak alam atau prinsip-prinsip keilmuan. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit yang dilakukan untuk menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah berlaku secara nasional, yakni rukyat yang diselenggarakan di dalam negeri masing-masing dan berlaku satu wilayah hukum. Ini juga berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad SAW sendiri. (Lebih lanjut tentang hal ini silakan klik di rubrik Syari’ah dan Iptek)Penentuan hari arafah itu juga ditegaskan dalam Bahtsul Masa’il Diniyah Maudluiyyah pada Muktamar Nahdlatul Ulama XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, akhir 1999. Ditegaskan bahwa yaumu arafah atau hari Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kalender negara setempat yang berdasarkan pada rukyatul hilal.Adapun tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah didasarkan pada hadits berikut ini:صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)Para ulama menambahkan adanya kesunnahan puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah, yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits lain, bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan bahwa hadits ini dloif (tidak kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.Selain itu, memang pada hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ
Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari)Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan bagi yang tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa Ramadhan.Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. Demikian ini seperti pernah dibahas dalam Muktamar NU X di Surakarta tahun 1935, dengan mengutip fatwa dari kitab Fatawa al-Kubra pada bab tentang puasa:
يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya. (A Khoirul Anam) sumber: NU Online
Kamis, 13 Oktober 2011
Selasa, 23 Agustus 2011
Senin, 28 Februari 2011
Minggu, 12 September 2010
Minggu, 20 Juni 2010
Pendiri IPNU

Beliau adalah salah satu pendidiri IPNU
KH. TOLCHAH MANSUR
Lahir 10 September 1930 di Malang
Pendidikan : SR-NU di Malang (1937), melanjutkan ke SMP Islam. Melanjutkan ke Taman Madya dan Taman Dewasa Raya (tingkat SLTA) dan tamat tahun 1951. Melanjutkan ke fakultas hokum, ekonomi, sosial dan politik (F-HESP) Gajah Mada tamat pada tahun 1964. Meraih gelar doctor dari kampus yang sama pada 17 Desember 1969. Membiasakan ikut Pesantren Ramadhan di Tebuireng dan Pesantren Lasem, Rembang.
Pengabdian : Sejak muda sudah memiliki bakat kepemimpinan yang menonjol. Ketika masih di SMP, dia sudah dipercaya menjadi sekretaris umum Ikatan Murid Nahdlatul Ulama (IMNU) untuk wilayah kota Malang, anggota organisasi Putra Indonesia, dan juga anggota pengurus Himpunan Putra Islam Indonesia di Malang. Pada tahun yang sama juga menjabat sekretaris Barisan Sabilillah untuk daerah pertempuran Malang selatan, sekaligus menjadi sekretaris bagian penerangan Markas Oelama Djawa Timoer (MODT).
Kegemaran organisasinya begitu tinggi. Semasa kuliah di Yogya, sederet jabatan penting organisasi juga disandangnya. Pernah menjabat ketua departemen penerangan PB PII, ketua I HMI Yogya, wakil panitia kongres persatuan perhimpunan mahasiswa Indonesia.
Beliaulah salah satu pencetus berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dalam konperensi Ma’arif NU di Semarang (1954). Tercatat dia sebagai pendiri IPNU, sekaligus ditunjuk sebagai ketuanya yang pertama. Posisi itu terus bertahan hingga tiga kali muktamar selanjutnya
Wafat 20 Oktober 1986/ 17 Shafar 1406 dalam usia 56 tahun, dimakamkan di Dusun Dongkelan, Taman Tirto, Bantul, tak jauh dari makam K.H. Munawir dan K.H. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.
Islam merupakan agama yang sempurna yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia dan untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Dalam agama Islam di atur berbagai macam urusan dalam kehidupan manusia, mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari urusan dapur sampai urusan Gubernur (pemerintah), dari urursan rakyat, masyarakat, orang melarat, konglomerat sampai pejabat dan orang berpangkat. Tidak ketinggalan pula tentang menghargai sesama manusia dan menghormati orang tua.
Dalam tulisan ini akan kami menyajikan sedikit hal mengenai menghormati orang tua dan berbuat baik kepadanya. Islam bahkan semua agama di dunia ini mewajibkan umatnya untuk berbakti dan berbuat baik kepada kepada orang tua, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 23 tentang kedudukan orang tua dan berbuat baik kepadanya
• •
“dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”
Berdasarkan firman Allah SWT di atas menunjukkan betapa tinggi dan mulya derajat orang tua yang mempunyai posisi kedua setelah kita menyembah Allah SWT oleh karena itu Islam memposisikan orang tua sangat signifikan sekali dalam ajarannya
Semua mengetahui bahwa orang tualah yang telah melahirkan dan merawat kita mulai dari tidak mengetahui dan mengenal sesuatu sampai mengetahui dan mengenal apa yang ada di dunia ini. Beliau dengan susah payah, tidak mengenal waktu untuk merawat dan terus memperhatikan kita sejak kecil dengan penuh kesabaran, keuletan dan ketulusannya demi masa depan anak yang lebih baik. Sudahkah kita membalas budi atas kebaikan dan pengorbanan beliau yang begitu besar kepada kita ! seberapa besar balasan kita kepada beliau selama ini ! Mampukah kita menandingi pengorbanan beliau! Coba kita renungkan sekarang……..!!! berdasarkan hal diatas sangat tepat sekali apa yang telah di sabdakan oleh Nabi Muhammad SAW :
الجنة تحت اقدام الامهات
“ Surga itu di bawah telapak kaki para Ibu”
Marila kita manapak tilasi sejarah klasik pada zaman Nabi Muhammad SAW , ada seorang sahabat bernama Alqomah. Dia adalah Sahabat yang sangat rajin beribadah, Dia hampir selalu mengikuti Salat jamaah dengan Nabi Muhammad SAW, rajin puasa, zakat haji dan ibadah-ibadah lainnya serta mengikuti peperangan-peperangan melawan orang Kafir. Para Sahabat mengakui bahwa Alqomah adalah sahabat Nabi yang Shalih, taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya.
Pada suatu hari Alqomah sakit parah yang tidak biasa terjadi pada orang-orang pada waktu itu, sepertinya sakit Alqomah hanya menunggu ajalnya saja. Suatu hari Rasulullah SAW menyuruh para Sahabat untuk menjenguknya yang kemudian memberikan bimbingan (Talqin) kepada Alqomah untuk mengucapkan kalimat Tauhid supaya dia kalau mati dalam keadaan kusnul khotimah, namun apa yang terjadi Alqomah tidak bisa mengucapkan satu katapun padahal alqomah adalah seorang sahabat Nabi yang taat beribadah, aneh sekali, Akhirnya para Sahabat kemabali dan menghadap kepada Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang di alami oleh Alqomah. Kemudian Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya tentang Ibunya, akhirnya Rasulullah SAW menyuruh Sahabat memanggil dan menjemput Ibunya untuk menceritakan tentang kehidupan Alqomah, setelah itu Rasulullah SAW meminta ibunya untuk memaafkan Alqomah tetapi ibunya tidak mau sebab Alqomah anak yang telah menyakiti hati sang Ibu maka Rasulullah SAW menyuruh para Sahabat mengambil kayu bakar untuk membakar Alqomah. Dia lebih baik di bakar dunia dari pada di Akhirat yang panas apinya melebihi panas api di dunia. Melihat hal demikian, akhirnya Ibunya mau memaafkan Alqomah dan Alqomah meninggal dunia dalam keadaan membawa Islam dan Iman.
Dari cerita tersebut diatas kita bisa petik sebuah pelajaran bahwa meskipun orang itu rajin beribadahm melakukan amal shalih tetapi dia durhaka kepada orang tua maka hidup dia akan sengsara baik dunia lebih-lebih di akhirat kelak.sudahkahkah kita berbakti dan berbuat baik kepda kedua orang tua kita ???. Sebenarnya masih banyak cerita-cerita yang bisa dijadikan pelajaran untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tua.
Semoga kita termasuk golongan yang taat kepada perintah Allah dan menjadi anak yang taat kepada orang tua. Amiiiin !!!
Wallahu A’lamu bis Shawab
Salam : Belajar, Berjuang, bertaqwa
WABAH III
Oleh : Ainun Yakin
I. Sejarah lahirnya IPNU
Berawal dari ide para putra Nahdlatul Ulama, yakni pelajar dan santri pondok pesantren untuk mendirikan suatu kelompok atau perkumpulan, maka bermunculanlah beragam organisasi berbasis kepelajaran, a.l :
1. Pada tahun 1939 lahir PERSANO (Persatoean Santri Nahdlatoel Oelama).
2. Pada tahun 1947 Lahir IMNU (Ikatan Murid Nahdlatul Ulama) di Malang.
3. Pada tahun 1950 berdiri IMNU (Ikatan Mubaligh Nahdlatul Ulama di Semarang.
4. Tsamaratul Mustafidin yang terbentuk pada tanggal 11 Oktober 1936 di Surabaya,
5. Persatuan Anak-anak Nahdlatul Oelama (PERSANO), Persatuan Anak Moerid
6. Nahdlatul Oelama (PAMNO) tahun 1941;
7. Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama (IMNO) pada tahun 1945,
8. Ijtimauttholabah Nahdlatul Oelama (ITNO) pada tahun 1946,
9. Subbanul Muslimin yang berdiri di Madura, serta masih banyak lagi.
Gerakan-gerakan organisasi pelajar ini baru terlihat menggeliat pada tahun 50-an dengan berdirinya beberapa organisasi pelajar lain, seperti :
1. Ikatan Siswa Muballighin Nahdlatul Oelama (IKSIMNO) ada tahun 1952 di Semarang,
2. Persatuan Pelajar Nahdlatul Oelama (PERPENO) di Kediri,
3. Ikatan Pelajar Nahdlatul Oelama (IPNO) di Surakarta dan lain sebagainya
Namun organisasi-organisasi yang telah berdiri di atas masih berjuang sendiri-sendiri dan bersifat kedaerahan.
Bertitik tolak dari kenyataan tersebut, maka Almarhum Tholcha Mansyur (Malang), Sofyan Cholil (Jombang), H. Mustamal (Solo) bermusyawarah untuk mempersatukan organisasi-organisasi tersebut dalam satu wadah, satu nama dan satu faham dengan nama IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) pada saat berlangsung kongres LP Ma’arif NU di Semarang pada tanggal 24 Februari 1954/ 20 Jumadil akhir 1373 Hijriyah.
Setahun setelah berdirinya IPNU, tepatnya pada muktamar IPNU di Semarang tanggal 2 Maret 1955, berdiri Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Sebagai wadah berhimpun pelajar putri NU, sebab IPNU hanya beranggotakan pelajar putra.
Pada kongres ke VI di Surabaya IPNU menjadi badan otonom NU (Nahdlatul Ulama). Sehingga IPNU Berhak mengatur rumah tangganya sendiri baik ke luar maupun ke dalam, tidak lagi tergantung kepada kebijakan LP Ma’arif.
Pada masa orde baru IPNU berubah nama menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama saat kongres ke X di Jombang disebabkan organisasi pelajar yang diakui pemerintah hanya OSIS sebagai organisasi intra sekolah dan Pramuka sebagai organisasi ekstra sekolah. Sehingga ladang garap IPNU tidak hanya pelajar dan santri saja, tetapi juga pemuda, remaja dan mahasiswa.
Namun dalam kongres ke-XIV tanggal 18 – 24 Juni 2003 di Surabaya IPNU sepakat untuk kembali ke habitatnya semula dengan berganti nama menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dengan orientasi pelajar, santri dan mahasiswa.
Lahirnya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan wadah pengkaderan bagi generasi muda NU yang bersumber dari kalangan pesantren dan pendidikan umum, yang diharapkan dapat berkiprah di berbagai bidang, baik politik (kebangsaan), birokrasi, maupun bidang-bidang profesi lainnya. Pada awalnya embrio organisasi ini adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih bersifat lokal dan parsial.
II. Tujuan Organisasi
Terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah swt., berilmu, berakhlaq mulia, dan berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegaknya syariat Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Di bidang pendidikan IPNU mempunyai tujuan:
• Untuk memelihara rasa persatuan dan kekeluargaan di antara pelajar umum, santri dan mahasiswa.
• Membina dan meningkatkan pendidikan dan kebudayaan Islam.
• Meningkatkan harkat masyarakat Indonesia yang berasusila dan mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.
III. Citra Diri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
Citra diri IPNU & IPPNU dilandasi oleh pokok-pokok pikiran bahwa manusia bertanggung jawab melaksanakan misi khalifah, yaitu memelihara, mengatur, dan memakmurkan bumi.
Makna dan fungsi manusia sebagai khalifah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi sosial (horizontal) dan dimensi ilahiah (vertikal)
• •Sosial bermakna mengenal alam, memikirkannya, dan memanfaatkan alam demi kebaikan dan ketinggian derajat manusia sendiri.
• Ilahiah yaitu mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Secara sosiologis manusia merupakan suatu komunitas yang memiliki nila-nilai kemanusiaan (moral, nilai sosial dan nilai keilmuan)
IV. Kondisi IPNU Sebelum Khitthah NU
IPNU telah melangkah menuju kemajuan dan kiprahnya telah diakui masyarakat. Namun pada perkembangannya tidak dapat mencapai puncak programnya, karena NU sebagai organisasi induknya pada saat itu masih terbawa arus politik sehingga ummat tidak menjadi perhatian utama.
V. Kondisi IPNU Pasca Khitthah NU
Perkembangan pasca khittah NU dan Kongres Jombang sangat menggembirakan karena khittah mampu mencipatkan iklim yang kondusif bagi pengembangan organisasi.
Namun IPNU menyadari bahwa sumbangannya sendiri dan masyarakat luas belum banyak. Dan generasi muda sebagai tenaga potensial pembangunan nasional membutuhkan pembinaan, maka IPNU memandang mendesak adanya konsep Citra Diri IPNU dalam rangka meningkatkan keperansertaannya dalam pembangunan bangsa.
IX. Alumni IPNU yang Menjadi “Orang Besar”
IPNU sebagai salah satu organisasi pelajar yang berskala nasional telah menumbuhkan berbagai tokoh-tokoh yang mempunyai peran penting dalam kemajuan Bangsa Indonesia, khususnya ummat Islam. Tokoh-tokoh tersebut antara lain :
1. Bapak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Mantan ketua IPNU Komisariat PP Tambakberas Jombang
Mantan Presiden RI
Ketua Dewan Syuro PKB
2. Bapak Prof. Dr. KH. M. Tolhah Hasan (Singosari)
Duduk sebagai Ketua cabang IPNU Malang ketika masih di bangku SLTP
Mantan Menteri Agama (Kabinet Indonesia Bersatu-Era Gus Dur)
Pernah menghadap Bupati Malang dengan hanya memakai celana pendek (seragam SLTP pada waktu itu)
3. Bapak Dr. KH. A. Hasyim Muzadi (Malang)
Mantan Ketua Cabang Tuban
Ketua Pengurus Besar NU sekarang di Jakarta
Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholars - Forum silaturahmi ulama & cendekiawan Islam sedunia)
4. Bapak Hamzah Haz
Mantan ketua Pengurus Cabang NU Kutai
Mantan Wakil Presiden RI
Ketua Umum DPP PPP
Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya.
I. Khatimah
Dengan berbagai pemaparan di atas, diharapkan kita sebagai kader IPNU dapat memahami dan meneladani perjuangan pendahulu IPNU demi mewujudkan kejayaan ummat Islam, khususnya warga Nahdliyin untuk mencapai satu tujuan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagaimana motto IPNU “belajar, berjuang, dan bertaqwa”.
Cita-cita Kita:
“Terwujudnya pelajar-pelajar yang bertaqwa kepada Allah SWT,berilmu, inovatif, dan kreatif serta berguna dengan berdasarkan syariat Islam
WABAH II
Oleh: Bang Jay*
Pendirian Nahdlatul Ulama’ (NU) muncul berlatar belakang adanya suasana yang kurang menyenangkan bagi perkembangan paham Islam. Ketika kerajaan usmaniah runtuh pada tahun 1924 dan munculnya kerajaan arab saudi di kota Mekkah yang mengembangkan paham wahabi. Paham wahabi ini menggusur paham Ahlusssunnah wal Jama’ah dan paham lainnya.
Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni madzhab Wahabi di kota Mekkah, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolakpembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari konggres Al-Islam di Jogjakarta pada tahun 1925. akibatnya kalangam pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam muktamar ’Alam Islami (Kongres Islam Internasional di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Sumber lain menyebutkan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah serta sesepuh NU lainnya hanya melakukan walk out (keluar dari arena/ruang sidang).
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan budaya dan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi (utusan) sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran Internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah dan peradaban yang sangat berharga.
Berangkat dari Komite Hejaz tersebut dan setelah berkoordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama’ (NU) pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 januari 1926 M) yang dipimpin langsung oleh Hadratus Syeh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rois Akbar (Ketua Umum).
Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka KH. Hasyim asy’ari merumuskan kitab Qonun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Waljama’ah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan (diterbitkan/dicetak ulang) dalam Khitah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
Pendirian NU pada mulanya berkantor di Surabay dengan jajaran pengurus dari kalangan keluarga pondok pesantren dan para santri. Bidang garapan NU adalah masyarakat pedesaan karena banyak orang desa yang membutuhkan perlindungan. Dengan cara santun membina masyarakat lewat tahlil dan pengajian, akhirnya NU yang baru berdiri ini dapat diterima oleh masyarakat. Disamping itu di perkotaan menjadi bidang garapan Muhammadiyah yang didirikan dan dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan dengan berpusat di kota jogjakarta. Wallahu A’lam bishshowab (to be continoed.../bersambung gitu lho...)
Bonnusss......
Kegilaan Presiden Keempat
Salah satu ciri kedewasaan seseorang konon adalah kemampuannya mengejek diri sendiri (apa pernah sampeyan melihat ada anak kecil yang mengejek diri sendiri?). Dan Gus Dur termasuk yang paling gemar dan sering melakukannya. Pada acara talk show (dialog) dengan Jaya Suprana (Pendiri Museum Rekor Indonesia/MURI) di TPI itu misalnya, dia ditanya, ”Apakah Gus Dur ini adalah presiden yang paling kocak di dunia? Ada enggak presiden lain yang lebih lucu?”
”Wah, soal itu saya enggak tahu. Yang jelas, saya ini nyasar. Mustinya jadi pelawak kok malah jadi presiden.” (Menurut Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, kadang-kadang Gus Dur lupa bahwa dia presiden).
Lalu dia mengemukakan perbedaan dirinya dengan para presiden RI sebelumnya. Ini sebenarnya kelanjutan dari joke (guyonan) yang beredar di masyarakat semasa pemerintahan Presiden Habibie. Kata Gus Dur, presiden pertama (Bung Karno) kita itu disebut gila wanita. Presiden kedua (Pak Harto), gila harta. Presiden ketiga (Pak Habibie), gila teknologi. ”Dan presiden RI keempat (Gus Dur), yang milih yang gila....”
(Hamid B. & Fajar W: Ger-geran bersama Gus Dur, Pebruari 2010)
ZIARAH
Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela ”ideologi”(dasar pemikiran)nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.
Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.
”Saya datang ke makam, karena saya tahu mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” katanya.
(Sumber Okezone, Abu Rayyan Kinza: Humor Nyentrik Ala Gus Dur, Januari 2010)
Kiai ber HP tapi malas SMS
G
us Dur pernah melemparkan guyonan-guyonan mengenai kyai NU yang sudah modern. Komunitas (perkumpulan) mereka bukan tradisional lagi karena beberapa Kyai sudah membeli dan menggunakan HP (hand phone) untuk berkomunikasi.
Gus Dur bercerita:
“Nah, ada seorang Kyai yang kalau di SMS, tidak pernah dibales dengan SMS, tetapi balesnya langsung menelpon. Kemudian ada seorang santri yang mengingatkan kyai tersebut, “Pak Kyai, kalau panjenengan di-SMS, bales saja pakai SMS, nggak perlu nelpon”. Lalu Pak Kyai itu menjawab: ”Ah, saya malu kalau SMS, karena tulisan saya jelek”.
(M. Wahab Hs: Ngakak Bareng Gus Dur, Januari 2010)
BANSER Salah OMONG
P
ada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke kota Malang, dan mendarat di bandara Abdurrahman Saleh. Waktu itu Gus Dur bersama antara lain Almarhum Jaksa Agung Sukartono Marmosujono. Sebagaimana lazim(pantas)nya untuk rombongan orang penting, mereka pun disambut oleh pasukan Banser (Barisan Anshor Serbaguna ) NU.
Ketika rombongan sudah berangkat ke Selorejo, sekitar 60 KM dari bandara, petugas Banser melapor pada poskonya melalui HT (Handy Talky).
“Halo, halo, rojer,” kata Mas Banser.
“Lapor: Presiden Abdurrahman Saleh sudah mendarat di Airport (bandara) Abdurrahman Wahid”
Yahh, kebalik...
(M. Wahab Hs: Ngakak Bareng Gus Dur, Januari 2010)
Gila NU
Saat menggambarkan fanatisme (sikap senang banget) orang NU, bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.
”Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hinggga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen (dasar) dan fanatik terhadap NU,” jelasnya tentang jenis yang pertama.
Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, ”Itu namanya orang gila NU.”
”Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila.” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.
(Abu Rayyan Kinza: Humor Nyentrik Ala Gus Dur, Januari 2010)
WABAH I

Mulai edisi kali ini kami akan mencoba menghadirkan materi2 seputar Aswaja, NU, dan ke-IPNU-an. Adapun tulisan-tulisan ini kami ambil dari materi rutinan yang ditujukan bagi anggota Ranting Kebonsari yang disampaikan oleh rekan2 dari PAC.IPNU Sumbersuko dengan Judul WABAH (Wawasan Bagi Hati) PELAJAR NU.
Selamat menikmati.
MENGENAL AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH
Kata Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terdiri dari tiga kata yaitu Ahlun (golongan), Assunnah (segala sesuatu yang berasala dari Rasulullah), dan Al-Jama’ah (golongan mayoritas umat Islam), jadi Ahluss Sunnah Wal Jama’ah adalah ajaran (wahyu Allah SWT) yang disampaikan nabi Muhammad SAW kepada para Sahabat-Nya dan beliau amalkan serta diamalkan para Sahabat. Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Imam Tirmidzi, Ibn Hajar Al-Asqalani dan yang lainnya. Yang artinya “Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, yang selamat hanhay satu sedang yang lain akan binasa. Sahabat bertanya : siapa yang selamat ? Rasulullah bersabda : Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Sahabat bertanya lagi : apa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ? Rasululllah menjawab : مَا اَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيي (Apa yang aku berada diatasnya (dilakukan Nabi) dan para Sahabatku).”
1 Edisi II, Mei 2010
Pernyataan Rasulullah SAW ini tentu tidak sekedar kita maknai secara tekstual, tetapi karena hal tersebut berkaitan dengan pemahaman tentang ajaran Islam maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah lebih kita artikan sebagai metode atau cara memahami nash dan bagaimana mentafsirkannya.
Rasulullah merupakan Nabi dan Rasul terakhir yang mendapat wahyu untuk umat manusia dan mendapat mu’jizat yang terbesar yaitu Al-Qur’an yang menjadi pedoman dan kitab suci bagi umat Islam. Segala permasalahan yang timbul pada zaman Rasulullah masih hidup dapat ditanyakan dan diselesaikan oleh Rasulullah SAW langsung karena beliau merupakan utusan Allah yang diberi keistimewaan dan merupakan sumber hukum setelah Al-Qur’an.
Namun setelah Rasulullah SAW wafat penyelesaian masalah sebagaimana semasa hidup Rasulullah SAW tidak ditemukan lagi, perselisihan dan perbedaan pendapat mulai timbul pada zaman KhuIlafaurrasyidin terutama pada akhir pemerintahan Usman bin Affan karena umat Islam terutama pendukung Ali bin Abi Thalib termakan rayuan dan fitnah dari Abdullah bin Saba’ seorang pendeta Yahudi asal Yaman yang mengaku masuk Islam dan berhasil mempengaruhi pendukung Ali bin Abi Thalib melahirkan golongan Syi’ah.
2
Terjadinya perpecahan umat Islam di awali dengan terjadinya perang Shiffin pada tahun 37 H antara pihak Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang masih saudara dari Usman bin Affan, yang diakhiri dengan peristiwa majlis Tahkim. Dengan adanya peristiwa ini muncul golongan Khawarij yang menyatakan keluar dari pihak Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sofyan dan menyatakan bahwa orang yang menerima peristiwa tahkim dihukumi kafir.
Selanjutnya, muncul golongan murji’ah yang dipimpin oleh Hasan bin Hilal Al-Muzni yang berfatwa “bahwa perbuatan maksiat tidak mengandung bahaya apabila sudah beriman”. Adalagi golongan Jabbariyah yang dipelopori oleh Jahm bin Sofyan yang menyatakan “bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat sesuatu, semua usaha manusia pada hakikatnya bukan kemampuan manusia tetapi merupakan perbuatan Tuhan”, dan golongan Qodariyah yang mengatakan bahwa perbuatan manusia itu diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa harus ada campur tangan dari Tuhan.
Kemudian Pada awal abad II H gerakan Qodariyah dilanjutkan oleh golongan Mu’tazilah yang dipimpin oleh Washil bin Atho’ yang menempatkan akal di atas segala-galanya melebihi Al-Qur’an dan Al-Hadis bahkan mereka menolak ayat-ayat atau hadis-hadis yang tidak masuk akal, mereka tidak mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj, siksa kubur karena dianggap tidak masuk akal.
Munculnya golongan-golongan di atas timbul awalnya dari masalah Imamah (pengganti Nabi sebagai pepimpin) yang kemudian tumbuh dan berkembang ke dalam masalah aqidah. Dari situ, kemudian merambah ke dalam wilayah agama. Terutama seputar hukum seorang muslim yang berbuat dosa besar dan bagaimana statusnya ketika ia mati, apakah tetap mukmin atau sudah kafir.
3
Pembicaraan tentang aqidah masa berikutnya meluas kepada persoalan-persoalan Tuhan dan manusia. Terutama terkait perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan. Demikian juga tentang sifat Tuhan, keadilan Tuhan, melihat Tuhan, kehudutsan dan keqadiman sifat-sifat Tuhan dan kemakhlukan Al-Qur’an. Dalam mempertahankan pendapat tentang persoalan tersebut terjadi perbedaan yang sangat tajam dan saling bertentangan.
Dari peristiwa diatas, maka ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang pada hakikatnya adalah ajaran Islam yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dirumuskan kembali (direkontruksi) dan disistematikan oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (lahir di Basrah, 260 H/873 M, wafat di Baghdad, 423 H/935 M) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (lahir di Maturid-Samarkand, wafat 333 H/) sebagi upaya untuk mengkompromikan dari perbedaan-perbedaan pendapat dari golongan di atas dan mengmbalikan ajaran Islam sesuai dengan yang dipraktikan dan diajarkan nabi Muhammad SAW.
Jadi, apa yang telah di sabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadis diatas itu benar-benar terjadi di zaman sekarang ini, banyaknya aliran-aliran yang bermunculan yang menyatakan sebagai ajaran Islam yang berpaham Ahlus Sunnah Wal Jamaah namun apa yang mereka lakukan pada hakikatnya jauh dan bahkan menyimpang dari ajaran ASWAJA itu sendiri. Oleh karena itu kita sebagai generasi Jam’iyah NU haruslah tetap menjaga dan melestarikan ajaran ASWAJA dan amaliyah Nahdliyin, Waspadalah terhadap golongan-golongan yang beredar sekarang ini.
Wallahu A’lamu bis Shawab
Salam : Belajar, Berjuang, bertaqwa
4
Website : www.ipnusumbersuko.blogspot.com





